Minggu, 30 November 2014

Cerpen

AWAL KEINGINANKU BERHASIL
Hari pertama masuk sekolah di SMPN 1 Palopo, dimana aku belum mengenal teman kelasku. “Hai, nama kamu siapa?” Sapaku terhadap salah satu teman kelasku. “Oh hai, namaku Suci kalau kamu?” “Namaku Raodah, senang berkenalan denganmu”. Setelah berkenalan dengan salah satu teman kelasku kami sudah cukup dekat. Bel berbunyi menandakan waktu istirahat, begitu aku dan teman-teman mau keluar kelas tiba-tiba datang beberapa kakak kelas yang masuk di kelas kami, ternyata mereka datang untuk mempromosikan ekskul dan mencari siswa untuk ekskul tersebut. “Ass. Adik-adik, kami dari ekskul pencak silat (Tapak Suci) ingin mencari bibit-bibit baru, apakah diantara adik-adik semua ada yang berminat masuk?” “Aku kak” dengan semangatnya aku mengangkat tangan. “Raodah, kamu serius?” kata Suci. “Iya, dari SD itu aku berkeinganan untuk masuk perguruan ilmu beladiri tapi aku tidak tahu bela diri apa yang aku mau masuki, dulu aku berkeinginan masuk karate tapi aku lihat latihannya tidak memakai jilbab dan sekarang aku baru tahu kalau latihannya boleh pakai jilab boleh juga tidak, itu waktu aku SD masih terlalu labil jadi, sekarang aku tidak bisa meninggalkan kesempatan ini” “hmmm…oke lah” balas Suci mengangguk. “Ok, yang berminat masuk, untuk informasi lebih lanjut kalian bisa hubungi kakak dari kelas 9B”  kata seorang dari mereka. Aku sudah mendapat informasi dari kakak kelas, setiap hari rabu dan jum’at aku  akan mulai latihan.
Rabu ini hari awal aku latihan, ternyata banyak juga dari kelas lain masuk ekstrakulikuler tapak suci, aku senang dengan  banyaknya teman yang akan ku temani. Hari pertama hanya ada satu pelatih (kader) yang melatih namanya Kak Mail, selebihnya yang melatih hanya siswa tingkat tinggi (siswa m.c empat) saja. Cabang tapak suci di sekolahku sangat kekurangan pelatih tapi aku bersyukur meskipun hanya ada satu pelatih. Aku dan teman-teman yang lain masuk kelapangan, sebelum masuk pemanasan kami membaca doa dengan kak Mail yang memimpin setelah itu “Sikap mawar hap” Ujarnya. Semua bergerak dan aku belum tahu apa itu sikap mawar aku hanya bisa mengikuti senior-senior ku, “Hormat hap, tegak hap” lanjutnya. Kak Mail memulai pemanasan, cukup melelahkan lari yang begitu lama dan badan pegal-pegal maklumlah masih hari pertama, selesai pemanasan aku dan teman-teman diberi waktu istirahat. Terdengar suara tepukan tangan yang bertanda waktu istirahat sudah habis , kami berkumpul kembali di lapangan dengan kata yang sama diucapkan kak Mail tadi “Sikap Mawar hap”. “Angkat tangan yang siswa baru” kata kak Mail, kami siswa yang hari pertama latihan mengajukan tangan, aku diajar olehnya, orangnya sangat baik dengan cara melatihnya yang cepatku pahami.
Pagi yang cerah semua anggota ekskul pencak silat berbincang-bincang sambil jalan menuju kelas masing-masing,”Aku baru bangun tidur seluruh badanku nggak bisa digerakin, kalau digerakin wuuh… malah tambah sakit” kata Ija,”Iya, sama sepertiku apalagi pahaku sakit banget, itu mungkin pemasan kemarin yah” sambung Yanti, “Aku juga sama seperti kalian, tahan-tahan saja sakitnya mungkin tiga hari kedepan sudah sembuh”ujarku, “Iya, betul tuh. Kalau pertama latihan pasti badan pegal-pegal karena itu proses pembentukan otot” sambung temanku yang sudah lama latihan.
Beberapa bulan aku latihan semakin banyak pelatih yang datang mengajar dan menambah semangat ku latihan.  Ketika aku sudah empat bulan latihan, ada salah satu kaderku yang mengusulkan aku harus datang latihan setiap hari minggu pukul 09:00 di sekolah MTSN Model untuk menambah bakat dalam perguruan pencak silat. Dengan mendengarnya perkataan kaderku itu, aku semakin giat lagi latihan karena aku percaya dengan aku yang latihan untuk menambah bakatku dalam perguruan pencak silat, aku bisa menjadi atlet pencak silat yang baik. Aku giat latihan pencak silat bukan berarti aku meinggalkan pelajaranku di sekolah. Aku juga fokus dengan pelajaranku.”hari minggu nanti mau nggak kamu temani aku latihan di MTSN Model?” tanyaku ke Ija, “Bisa, kita perginya jam berapa?” jawabnya, “seingatku yang pernah dikatakan kader itu jam 09:00” balasku, “Oh,oke” sambungnya.
Suara kendaran yang lewat membuatku tidak sabar menunggu Ija untuk datang menjemputku dengan menelfonnya tiba-tiba terdengar suara klakson motor. “Ehh, sudah datang” ujarku, naik di motornya lalu berangkat. “MTSN Model itu dimana?” Tanya Ija, “Jalan lurus saja nanti aku tunjukin”jawabku. MTSN Model dari rumahku kurang lebih 2Km tidak ada belok-beloknya. “Stop… kita sudah sampai” ujarku, dia menghentikan motornya terdengar suara pukulan dan tendangan yang berasal dari aula lalu kita masuk dengan perasaan malu ke dalam aula tempat orang latihan. “Banyak juga yah yang latihan”kata Ija, “iya, Ija”jawabku. Seperti biasa kalau mau memulai latihan harus baca do’a dulu, dengan latihan memakai matras. Kami pemanasan terlebih dahulu selesai itu kami latihan menendang dengan sekuat-kuatnya, kader-kader juga ikut menendang dengan tendangan mereka yang sangat keras, beberapa kemudian kami pun beristirahat sejenak. Lanjut latihan dimana para kader sparing satu sama lain mereka sparing menggunakan banyak tekhnik. Aku ditujuk untuk melakukan sparing dengan siswa berasal dari MTSN kami saling memukul dan menendang satu sama lain, aku masih baru belajar kader perempuan yang bernama Kak Diana mengajarkan beberapa tekhnik. Empat jam sudah berlalu kami semua berhenti latihan dan waktunya pulang.
Pulang ke rumah aku baru melihat kalau kakiku biru, aku secepatnya mengobatinya dan membersihkan badanku yang berkeringat. “Oh.. aku hampir lupa ternyata masih ada tugasku yang belum ku kerjakan” kataku, aku secepatnya mengerjakan dan melanjutkan makan siang. “Kalau anak pencak silat itu harus makan banyak” kata bapakku, “Aku mah makan banyak tapi tidak gemu-gemuk” jawabku. Di rumah, aku juga banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan.
Di semester satu ini aku tidak pernah absen dalam latihan bisa dibilang aku adalah murid terajin yang selalu datang latihan, biasa hanya aku murid perempuan yang datang latihan. Jadi, materiku lebih cepat dan tidak ketinggalan dari mereka yang tidak latihan (pastilah). Jika pada saat musim hujan aku dan teman-teman tetap latihan dan lebih seru.
Pada saat ini sudah enam bulan aku latihan pencak silat dan tidak lama lagi aku akan melaksanakan ujian penaikan tingkat dan bersyukur karena materi yang aku pelajari sudah aku pahami. Hanya menunggu satu bulan lagi. Kini setiap aku datang latihan, aku hanya mengulang-ngulang materi yang telah ku pelajari. Bukan hanya ujian penaikan tingkat yang kini sudah mendekat, tetapi ulangan semester ganjil juga. Haru minggu ini, hari awal di bulan desember dan besok aku sudah berusia 13 tahun.
Ayam berkokok subuh hari membuatku terbangun dari tempat tidurku, aku bergegas mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat subuh selesainya aku langsung mandi dan secepatnya pergi sekolah karena ini hari senin jangan sampai aku terlambat melaksanakan upacara di sekolah. “Ma, aku ke sekolah dulu, Ass.”, “Wa’alaikumsalam” balas Mamaku. Baru saja aku sampai di sekolah, tiba-tiba “Ra’ selamat ulang tahun yah” kata Suci, “Iya terima kasih teman” selain Suci, teman-temanku yang lain juga mengucapkan kata yang sama kepadaku. Pada saat upacara kepala sekolah mengatakan bahwa “seminggu lagi anak-anakku semua sudah melaksanakan ulangan semester ganjil, bapak harap kalian semua bersiap-siap”. Mendengar itu aku dan teman-teman kaget. “Wiish.. tidak lama lagi yah tinggal menghitung hari saja” kata Dina,“Oke aku siap mengahadapi ulangan semester ini” kataku dalam hati. Pada saat aku latihan pencak silat, kader beserta teman seangkatan ku juga mengucapkannya meskipun ultahku sudah lewat dua hari. Tinggal menghitung hari, senin depan sudah dilaksanakannya ulangan semester ganjil.
“Alhamdulillah, ulangan hari ini cukup mudah” kataku, “yupp.. betul sekali tidak rugi aku belajar satu hari full untuk mata pelajaran tadi”jawab Suci, “Iya sih tapi ada beberapa soal tadi yang sulit ku kerja” sambung Nur. Seminggu sudah ku jalankan ulangan semester ini. Sisa menunggu hasil ulangan ku. Sangat menyakitkan remidi ku ada empat yaitu, matematika,fisika, ips dan Bhs. Ing, aku memang kurang ahli di bidang matematika, fisika dan ips, Bhs. Ing. ku sedikit lagi tidak remidi tetapi tetap saja remidi sedih banget, tapi masih banyak temanku yang lebih dari itu, “aku harus secepatnya menuntaskan remidiku” kata ku dalam hati.
Jum’at ini hari terakhirku latihan pencak silat, aku mempersiapkan diri  untuk besok ujian penaikan tingkat. “Untuk ujian besok kalian mempersiapkan baju forum dan biodata kalian”ujar kaderku “Siap kak!” jawab serempak dengan temanku. Besok juga aku akan mendapat hasil belajarku selama semester satu ini di sekolah. “Besok aku peringkat berapa yah?” kata Ija, “Liat saja besok pasti ada hasilnya, aku juga deg-degan ni tidak sabar melihat hasilnya”jawabku.
Beberapa siswa telah menerima hasil belajarnya, tetapi aku dan teman-temanku belum menerimanya. Menunggu wali kelas kami datang, “Nanti yang peringkat 1 siapa yah?” tanyaku, “Mungkin Dina” jawab Fitri, “Ah.. bisa aja kamu ini, klau menurutku kamu deh Tri” sambung Dina, “Bikin greget deh, penasaran banget aku ini”kataku, “aku juga”sambung Suci. “Bu guru datang.. bu guru datang!” ujar Nur. Kami semua pun masuk di dalam kelas, bu guru belum duduk teman-teman langsung mengerumuninya “Bu yang peringkat 1 siapa bu?” tanya salah seorang teman ku, “iya bu, siapa?” “penasaran nih bu” sambung temanku. “Oke-oke ibu kasi tahu, peringkat 1 itu adalah…?” kami semua degdegan, pengen tahu siapa orangnya, “peringkat 1 adalah Fitri”lanjut bu guru. Kami semua bersorak dan member selamat kepada Fitri. “peringkat 2 adalah Suci” kami bertepuk tangan dan member selamat kepadanya dan Fitri sama Suci berpelukan sambil lompat-lompatan bersama. “Bu yang peringkat 3 siapa bu?” Tanya temanku, “peringkat 3 adalah Raodah” jawab bu guru. Aku sentak kaget “Namaku disebut, aku peringkat 3.. Alhamdulillah”. Aku senang banget, bersyukur sekali aku bisa diposisi 3 besar.
Sore ini aku akan pergi ke MTS Neg. Model untuk menjalankan ujian penaikan tingkat. Suara adzan di mesjid menandakan sudah masuk waktu ashar, aku bersiap-siap untuk pergi ujian sampainya aku di tempat aku sholat berjamaah bersama dengan peserta ujian dan para kader. “Assalamualaikum warahmatullah 2×” sholat asahar berakhir. Saatnya aku pergi ke ruangan mengganti baju forum tapak suci. Masuk ke lapangan berkumpul dan berbaris, para kader serta pendekar pun datang untuk membuka ujian penaikan tingkat ini, seorang kader memimpin baca do’a setelah itu pendekar memberikan kesan dan pesan kepada kami yang ikut ujian. Kami diberikan kertas untuk mengisi nomor peserta, nama dan cabang sekolah, Saatnya ujian dimulai dimana pada masing –masing tingkatan berkumpul menjadi satu, aku berada ditingkat dasar dan begitu banyak juga peserta ditingkat dasar. Kami baris sambil duduk menunggu nomor peserta kami dipanggil untuk menjalankan ujian ini, satu persatu nomor peserta kami dipanggil, aku menunggu nomor pesertaku dipanggil, temanku yang dari cabang sama sepertiku sudah banyak dipanggil termasuk Ija. “014” teriak seorang kader, nomorku dipanggil aku berdiri mengatakan “Siap!” aku berlari ke tempat kader yang memanggil nomorku, ternyata kader yang melatih di cabang SMA Neg. 1, aku diuji bersama siswa dari cabang MTS dengan yang diujikan tentang tradisi tapak suci. Tak lama kemudian waktu magrib saatnya masuk kami peserta diistirahatkan sampai setelah sholat isya untuk sholat, makan dsb.
“1.. 2.. 3..” teriak seorang kader menandakan harus berkumpul di lapangan. Melanjutkan ujian, semua tingkatan berkumpul masing –masing dimana tempat meraka diuji. Kami diuji sampai pukul 11:30, aku tidak menyadari kalau sudah larut malam, begitu menegangkan saat diumum kan hasil ujian pertama ini, “Ra’ remidimu ada berapa?”tanya Ija “Remidiku ada tiga, kamu ada berapa?”jawabku “Remidiku banyak Ra’ ada lebih dari lima, boleh nggak kamu ajarin aku?”, “bisa. Kami menyempatkan untuk membenarkan gerakan maupun jurus yang salah, setelah kemudian aku bersama peserta ujian yang perempuan pergi tempat wudhu untuk membersihkan badan sebelum tidur, kami kembali ke ruangan dan tidur.
Jam 04:25 aku terbangun dari tidurku, “semuanya masih tidur”kataku, aku membangunkan Ija yang ada disampingku untuk menemaniku keluar mencuci muka. Tak lama kemudian suara mesjid terdengar dan tak lama lagi sholat subuh, semuanya bangun bersiap-siap melaksanakan sholat subuh, selepas sholat semua peserta ujianpun berkumpul di lapangan kembali, kami pemanasan dan lari berkilo –kilo meter dan sampai di MTS kembali, dalam perjalanan tadi banyak juga yang tak sanggup lagi. “Huhh.. lelah juga barusan aku lari pagi sejauh ini” kata Ija “Aku juga sama” menjawab dengan kelelahan, lanjut pelemasan. “Kalian diberi istirahat untuk makan, mandi dsb. Gunakan waktu sebaik-baiknya, kalian harus berkumpul di lapangan lagi pukul 08:30. Siap!”kata seorang kader, “ Siap!” kami menjawab serentak. Gubar dari barisan saatnya aku bersama Ija pergi membeli makanan di luar, “Ujian kedua nanti kayak bagaimana yah Ija?” tanyaku, “katanya kak Inda, ujian nanti berbentuk ujian fisik dan sebelum ujian dituntas kan dulu remidi kayak gitu”jawabnya. “Ohh.. kayak gitu, eh makan dulu yuk tidak lama lagi kita kumpul” ujarku. Kak Inda itu sudah tingkat 2 jadi dia sudah tahu. Selesai makan aku dengan yang lain siap-siap mengganti baju dan berkumpul dilapangan.

Sebelum ujian, aku secepatnya menuntaskan remidiku. “Akhirnya remidiku tuntas juga”ujarku menunggu yang lain menuntaskan remidinya, aku mengajarkan Ija materi yang diremidikannya. Waktu untuk remedial habis, saatnya ujian kedua dimulai. Nomor pesertaku dipanggil seorang kader perempuan, aku tidak sendiri ada juga siswa dari cabang MTS, “jadi push up, shit up, meninju dan tendangan menjulang semuanya kalian gerakkan sampai 60×, mengerti?”ujarnya, kami menjawab “mengerti” aku mulai bergerak, di tengah-tengah aku bergerak “kalau mau melebihi 60 bisa”kata kader. Push up aku lebihi menjadi 80×, shit up ku lebihkan menjadi 100×, meninju juga sama 100× dan tendangan menjulang ku lebihkan menjadi 90×. Aku melanjutkan jalan bebek dengan jarak 2 kali lapangan yaitu basket dan volly dengan 3 kali putar balik sama juga seperti lompat kodok, koprol, guling botol, merayap dan angkat beban. “Wow.. huhh.. sangat-sangat melelahkan tapi seru juga dengan candaan tawa dari kader-kader yang mengawasiku”ujarku. “Melelahkan banget Ra’, liat juga nih baju kotor semua”kata Ija “Tidak apalah, bajuku juga kotor”balasku. Selesai ujian fisik ini pukul 11:30, peserta ujianpun kembali beristirahat. “Kak Inda, ujian berikutnya seperti apa?” tanyaku “ujian berikutnya itu ujian tertulis, pelajari saja ayat syahadat, arti dari lambing tapak suci dan sejarah tapak suci” jawabnya.”oke makasih kak”balasku. Menunggu waktu ujian tulis, aku dan teman-teman yang lain sibuk belajar. Sudah ada panggilan untuk ujian tulis, aku pergi ke ruangan ujian sambil membaca buku “semoga ujian tulis nanti aku bisa menjawabnya dengan benar”ucapku dalam hati. Masuk keruangan ujian siap untuk melaksanakan ujian tulis, banyak kader yang mengawasi di bagian belakang tempat dudukku. Akhirnya ujain tulis sudah berakhir dan aku menjawabnya dengan lancar dan jujur, “Semuanya kumpul di lapangan”ujar seorang kader, “Untuk apa lagi yah?”tanya siswa MTS berbisik dengan temannya, aku turun saja menuruti perintah kader. Para peserta ujian berbaris dan jalan “Kak kita mau kemana” tanyaku ke Kak Mail “ikuti saja yang di depan nanti juga tahu”jawabnya, aku hanya menurut saja dan ternyata ke lapangan. Kami disuruh duduk dan kepala tidak boleh menoleh kesana kemari, aku penasaran banget ap yang dilakukan di lapangan ini, sudah ada beberapa siswa yang ditunjuk tak lama kemudian aku ditunjuk, aku mengikuti siswa sebelumku “Astaga! Aku harus turun got”ujarku dalam hati “hey kamu jangan tinggal menghayal ayo sini”ujar kader yang di atas got. Oh terpaksa aku turun, anak pencak silat tidak takut dengan beginian, aku memberanikan diri, “Kamu pergi ke kader yang disana itu”katanya memberi petunjuk. Aku lari ke tempat kader berikutnya, aku disuruh merayap sampai ke tempat selanjutnya, di tempat selanjutnya muka ku diberi lumpur dan aku disuruh ke tempat kader berikutnya aku lari sesampainya, aku disuruh berguling di lumpur, lanjut aku ke kader berikutnya ternyata kak Mail, aku disuruh memecah teka-tekinya dan aku bisa memecahnya, lanjut ada kader yang tiba-tiba datang menyerang dengan toya senjata dari rotan ternyata aku disuruh untuk menghindari serangan tersebut, setelah itu aku diguling dengan kak Diana kader yang melatihku setiap hari minggu dan yang terkhir aku disuruh melawan kader perempuan dengan kepala yang pusing, selesai semuanya peserta ujian kembali ke MTS dengan baju, muka kotor berlumpur serta basah. Penutupan ujian berlangsung disertai dengan pengumuman hasil ujian penaikan tingkat ini, “namaku mana? Lama banget disebutnya”aku mencoba untuk tenang dan ternyata aku LULUS, senang banget hati ini aku sudah menjadi siswa tingkatan 1 (satu). Keinginanku sudah berhasil, aku bisa menjadi anggota tapak suci dan aku akan melanjutkan sampai seterusnya aku bisa.

Karya: Radhiah Tulhidayah
Cerpen pertamaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar