AWAL KEINGINANKU BERHASIL
Hari pertama masuk sekolah di SMPN 1 Palopo, dimana aku belum mengenal teman kelasku. “Hai, nama kamu siapa?” Sapaku terhadap salah satu teman kelasku. “Oh hai, namaku Suci kalau kamu?” “Namaku Raodah, senang berkenalan denganmu”. Setelah berkenalan dengan salah satu teman kelasku kami sudah cukup dekat. Bel berbunyi menandakan waktu istirahat, begitu aku dan teman-teman mau keluar kelas tiba-tiba datang beberapa kakak kelas yang masuk di kelas kami, ternyata mereka datang untuk mempromosikan ekskul dan mencari siswa untuk ekskul tersebut. “Ass. Adik-adik, kami dari ekskul pencak silat (Tapak Suci) ingin mencari bibit-bibit baru, apakah diantara adik-adik semua ada yang berminat masuk?” “Aku kak” dengan semangatnya aku mengangkat tangan. “Raodah, kamu serius?” kata Suci. “Iya, dari SD itu aku berkeinganan untuk masuk perguruan ilmu beladiri tapi aku tidak tahu bela diri apa yang aku mau masuki, dulu aku berkeinginan masuk karate tapi aku lihat latihannya tidak memakai jilbab dan sekarang aku baru tahu kalau latihannya boleh pakai jilab boleh juga tidak, itu waktu aku SD masih terlalu labil jadi, sekarang aku tidak bisa meninggalkan kesempatan ini” “hmmm…oke lah” balas Suci mengangguk. “Ok, yang berminat masuk, untuk informasi lebih lanjut kalian bisa hubungi kakak dari kelas 9B” kata seorang dari mereka. Aku sudah mendapat informasi dari kakak kelas, setiap hari rabu dan jum’at aku akan mulai latihan.
Hari pertama masuk sekolah di SMPN 1 Palopo, dimana aku belum mengenal teman kelasku. “Hai, nama kamu siapa?” Sapaku terhadap salah satu teman kelasku. “Oh hai, namaku Suci kalau kamu?” “Namaku Raodah, senang berkenalan denganmu”. Setelah berkenalan dengan salah satu teman kelasku kami sudah cukup dekat. Bel berbunyi menandakan waktu istirahat, begitu aku dan teman-teman mau keluar kelas tiba-tiba datang beberapa kakak kelas yang masuk di kelas kami, ternyata mereka datang untuk mempromosikan ekskul dan mencari siswa untuk ekskul tersebut. “Ass. Adik-adik, kami dari ekskul pencak silat (Tapak Suci) ingin mencari bibit-bibit baru, apakah diantara adik-adik semua ada yang berminat masuk?” “Aku kak” dengan semangatnya aku mengangkat tangan. “Raodah, kamu serius?” kata Suci. “Iya, dari SD itu aku berkeinganan untuk masuk perguruan ilmu beladiri tapi aku tidak tahu bela diri apa yang aku mau masuki, dulu aku berkeinginan masuk karate tapi aku lihat latihannya tidak memakai jilbab dan sekarang aku baru tahu kalau latihannya boleh pakai jilab boleh juga tidak, itu waktu aku SD masih terlalu labil jadi, sekarang aku tidak bisa meninggalkan kesempatan ini” “hmmm…oke lah” balas Suci mengangguk. “Ok, yang berminat masuk, untuk informasi lebih lanjut kalian bisa hubungi kakak dari kelas 9B” kata seorang dari mereka. Aku sudah mendapat informasi dari kakak kelas, setiap hari rabu dan jum’at aku akan mulai latihan.
Rabu ini hari awal aku latihan,
ternyata banyak juga dari kelas lain masuk ekstrakulikuler tapak suci, aku
senang dengan banyaknya teman yang akan
ku temani. Hari pertama hanya ada satu pelatih (kader) yang melatih namanya Kak
Mail, selebihnya yang melatih hanya siswa tingkat tinggi (siswa m.c empat)
saja. Cabang tapak suci di sekolahku sangat kekurangan pelatih tapi aku
bersyukur meskipun hanya ada satu pelatih. Aku dan teman-teman yang lain masuk
kelapangan, sebelum masuk pemanasan kami membaca doa dengan kak Mail yang
memimpin setelah itu “Sikap mawar hap” Ujarnya. Semua bergerak dan aku belum
tahu apa itu sikap mawar aku hanya bisa mengikuti senior-senior ku, “Hormat
hap, tegak hap” lanjutnya. Kak Mail memulai pemanasan, cukup melelahkan lari
yang begitu lama dan badan pegal-pegal maklumlah masih hari pertama, selesai
pemanasan aku dan teman-teman diberi waktu istirahat. Terdengar suara tepukan
tangan yang bertanda waktu istirahat sudah habis , kami berkumpul kembali di
lapangan dengan kata yang sama diucapkan kak Mail tadi “Sikap Mawar hap”.
“Angkat tangan yang siswa baru” kata kak Mail, kami siswa yang hari pertama
latihan mengajukan tangan, aku diajar olehnya, orangnya sangat baik dengan cara
melatihnya yang cepatku pahami.
Pagi yang cerah semua anggota
ekskul pencak silat berbincang-bincang sambil jalan menuju kelas masing-masing,”Aku
baru bangun tidur seluruh badanku nggak bisa digerakin, kalau digerakin wuuh…
malah tambah sakit” kata Ija,”Iya, sama sepertiku apalagi pahaku sakit banget,
itu mungkin pemasan kemarin yah” sambung Yanti, “Aku juga sama seperti kalian,
tahan-tahan saja sakitnya mungkin tiga hari kedepan sudah sembuh”ujarku, “Iya,
betul tuh. Kalau pertama latihan pasti badan pegal-pegal karena itu proses
pembentukan otot” sambung temanku yang sudah lama latihan.
Beberapa bulan aku latihan
semakin banyak pelatih yang datang mengajar dan menambah semangat ku latihan. Ketika aku sudah empat bulan latihan, ada
salah satu kaderku yang mengusulkan aku harus datang latihan setiap hari minggu
pukul 09:00 di sekolah MTSN Model untuk menambah bakat dalam perguruan pencak
silat. Dengan mendengarnya perkataan kaderku itu, aku semakin giat lagi latihan
karena aku percaya dengan aku yang latihan untuk menambah bakatku dalam
perguruan pencak silat, aku bisa menjadi atlet pencak silat yang baik. Aku giat
latihan pencak silat bukan berarti aku meinggalkan pelajaranku di sekolah. Aku
juga fokus dengan pelajaranku.”hari minggu nanti mau nggak kamu temani aku
latihan di MTSN Model?” tanyaku ke Ija, “Bisa, kita perginya jam berapa?”
jawabnya, “seingatku yang pernah dikatakan kader itu jam 09:00” balasku,
“Oh,oke” sambungnya.
Suara kendaran yang lewat
membuatku tidak sabar menunggu Ija untuk datang menjemputku dengan menelfonnya
tiba-tiba terdengar suara klakson motor. “Ehh, sudah datang” ujarku, naik di
motornya lalu berangkat. “MTSN Model itu dimana?” Tanya Ija, “Jalan lurus saja
nanti aku tunjukin”jawabku. MTSN Model dari rumahku kurang lebih 2Km tidak ada
belok-beloknya. “Stop… kita sudah sampai” ujarku, dia menghentikan motornya
terdengar suara pukulan dan tendangan yang berasal dari aula lalu kita masuk
dengan perasaan malu ke dalam aula tempat orang latihan. “Banyak juga yah yang
latihan”kata Ija, “iya, Ija”jawabku. Seperti biasa kalau mau memulai latihan
harus baca do’a dulu, dengan latihan memakai matras. Kami pemanasan terlebih
dahulu selesai itu kami latihan menendang dengan sekuat-kuatnya, kader-kader
juga ikut menendang dengan tendangan mereka yang sangat keras, beberapa
kemudian kami pun beristirahat sejenak. Lanjut latihan dimana para kader
sparing satu sama lain mereka sparing menggunakan banyak tekhnik. Aku ditujuk
untuk melakukan sparing dengan siswa berasal dari MTSN kami saling memukul dan
menendang satu sama lain, aku masih baru belajar kader perempuan yang bernama
Kak Diana mengajarkan beberapa tekhnik. Empat jam sudah berlalu kami semua
berhenti latihan dan waktunya pulang.
Pulang ke rumah aku baru melihat
kalau kakiku biru, aku secepatnya mengobatinya dan membersihkan badanku yang
berkeringat. “Oh.. aku hampir lupa ternyata masih ada tugasku yang belum ku
kerjakan” kataku, aku secepatnya mengerjakan dan melanjutkan makan siang.
“Kalau anak pencak silat itu harus makan banyak” kata bapakku, “Aku mah makan
banyak tapi tidak gemu-gemuk” jawabku. Di rumah, aku juga banyak pekerjaan yang
harus ku selesaikan.
Di semester satu ini aku tidak pernah
absen dalam latihan bisa dibilang aku adalah murid terajin yang selalu datang
latihan, biasa hanya aku murid perempuan yang datang latihan. Jadi, materiku
lebih cepat dan tidak ketinggalan dari mereka yang tidak latihan (pastilah). Jika
pada saat musim hujan aku dan teman-teman tetap latihan dan lebih seru.
Pada saat ini sudah enam bulan
aku latihan pencak silat dan tidak lama lagi aku akan melaksanakan ujian
penaikan tingkat dan bersyukur karena materi yang aku pelajari sudah aku
pahami. Hanya menunggu satu bulan lagi. Kini setiap aku datang latihan, aku
hanya mengulang-ngulang materi yang telah ku pelajari. Bukan hanya ujian
penaikan tingkat yang kini sudah mendekat, tetapi ulangan semester ganjil juga.
Haru minggu ini, hari awal di bulan desember dan besok aku sudah berusia 13
tahun.
Ayam berkokok subuh hari
membuatku terbangun dari tempat tidurku, aku bergegas mengambil air wudhu untuk
menjalankan sholat subuh selesainya aku langsung mandi dan secepatnya pergi
sekolah karena ini hari senin jangan sampai aku terlambat melaksanakan upacara
di sekolah. “Ma, aku ke sekolah dulu, Ass.”, “Wa’alaikumsalam” balas Mamaku.
Baru saja aku sampai di sekolah, tiba-tiba “Ra’ selamat ulang tahun yah” kata
Suci, “Iya terima kasih teman” selain Suci, teman-temanku yang lain juga
mengucapkan kata yang sama kepadaku. Pada saat upacara kepala sekolah
mengatakan bahwa “seminggu lagi anak-anakku semua sudah melaksanakan ulangan
semester ganjil, bapak harap kalian semua bersiap-siap”. Mendengar itu aku dan
teman-teman kaget. “Wiish.. tidak lama lagi yah tinggal menghitung hari saja”
kata Dina,“Oke aku siap mengahadapi ulangan semester ini” kataku dalam hati. Pada
saat aku latihan pencak silat, kader beserta teman seangkatan ku juga
mengucapkannya meskipun ultahku sudah lewat dua hari. Tinggal menghitung hari,
senin depan sudah dilaksanakannya ulangan semester ganjil.
“Alhamdulillah, ulangan hari ini
cukup mudah” kataku, “yupp.. betul sekali tidak rugi aku belajar satu hari full
untuk mata pelajaran tadi”jawab Suci, “Iya sih tapi ada beberapa soal tadi yang
sulit ku kerja” sambung Nur. Seminggu sudah ku jalankan ulangan semester ini.
Sisa menunggu hasil ulangan ku. Sangat menyakitkan remidi ku ada empat yaitu,
matematika,fisika, ips dan Bhs. Ing, aku memang kurang ahli di bidang
matematika, fisika dan ips, Bhs. Ing. ku sedikit lagi tidak remidi tetapi tetap
saja remidi sedih banget, tapi masih banyak temanku yang lebih dari itu, “aku
harus secepatnya menuntaskan remidiku” kata ku dalam hati.
Jum’at ini hari terakhirku
latihan pencak silat, aku mempersiapkan diri
untuk besok ujian penaikan tingkat. “Untuk ujian besok kalian
mempersiapkan baju forum dan biodata kalian”ujar kaderku “Siap kak!” jawab serempak
dengan temanku. Besok juga aku akan mendapat hasil belajarku selama semester
satu ini di sekolah. “Besok aku peringkat berapa yah?” kata Ija, “Liat saja
besok pasti ada hasilnya, aku juga deg-degan ni tidak sabar melihat
hasilnya”jawabku.
Beberapa siswa telah menerima
hasil belajarnya, tetapi aku dan teman-temanku belum menerimanya. Menunggu wali
kelas kami datang, “Nanti yang peringkat 1 siapa yah?” tanyaku, “Mungkin Dina”
jawab Fitri, “Ah.. bisa aja kamu ini, klau menurutku kamu deh Tri” sambung Dina,
“Bikin greget deh, penasaran banget aku ini”kataku, “aku juga”sambung Suci. “Bu
guru datang.. bu guru datang!” ujar Nur. Kami semua pun masuk di dalam kelas,
bu guru belum duduk teman-teman langsung mengerumuninya “Bu yang peringkat 1
siapa bu?” tanya salah seorang teman ku, “iya bu, siapa?” “penasaran nih bu”
sambung temanku. “Oke-oke ibu kasi tahu, peringkat 1 itu adalah…?” kami semua
degdegan, pengen tahu siapa orangnya, “peringkat 1 adalah Fitri”lanjut bu guru.
Kami semua bersorak dan member selamat kepada Fitri. “peringkat 2 adalah Suci”
kami bertepuk tangan dan member selamat kepadanya dan Fitri sama Suci
berpelukan sambil lompat-lompatan bersama. “Bu yang peringkat 3 siapa bu?”
Tanya temanku, “peringkat 3 adalah Raodah” jawab bu guru. Aku sentak kaget
“Namaku disebut, aku peringkat 3.. Alhamdulillah”. Aku senang banget, bersyukur
sekali aku bisa diposisi 3 besar.
Sore ini aku akan pergi ke MTS
Neg. Model untuk menjalankan ujian penaikan tingkat. Suara adzan di mesjid
menandakan sudah masuk waktu ashar, aku bersiap-siap untuk pergi ujian
sampainya aku di tempat aku sholat berjamaah bersama dengan peserta ujian dan
para kader. “Assalamualaikum warahmatullah 2×” sholat asahar berakhir. Saatnya
aku pergi ke ruangan mengganti baju forum tapak suci. Masuk ke lapangan
berkumpul dan berbaris, para kader serta pendekar pun datang untuk membuka
ujian penaikan tingkat ini, seorang kader memimpin baca do’a setelah itu
pendekar memberikan kesan dan pesan kepada kami yang ikut ujian. Kami diberikan
kertas untuk mengisi nomor peserta, nama dan cabang sekolah, Saatnya ujian
dimulai dimana pada masing –masing tingkatan berkumpul menjadi satu, aku berada
ditingkat dasar dan begitu banyak juga peserta ditingkat dasar. Kami baris
sambil duduk menunggu nomor peserta kami dipanggil untuk menjalankan ujian ini,
satu persatu nomor peserta kami dipanggil, aku menunggu nomor pesertaku
dipanggil, temanku yang dari cabang sama sepertiku sudah banyak dipanggil
termasuk Ija. “014” teriak seorang kader, nomorku dipanggil aku berdiri
mengatakan “Siap!” aku berlari ke tempat kader yang memanggil nomorku, ternyata
kader yang melatih di cabang SMA Neg. 1, aku diuji bersama siswa dari cabang
MTS dengan yang diujikan tentang tradisi tapak suci. Tak lama kemudian waktu
magrib saatnya masuk kami peserta diistirahatkan sampai setelah sholat isya
untuk sholat, makan dsb.
“1.. 2.. 3..” teriak seorang
kader menandakan harus berkumpul di lapangan. Melanjutkan ujian, semua
tingkatan berkumpul masing –masing dimana tempat meraka diuji. Kami diuji sampai
pukul 11:30, aku tidak menyadari kalau sudah larut malam, begitu menegangkan
saat diumum kan hasil ujian pertama ini, “Ra’ remidimu ada berapa?”tanya Ija
“Remidiku ada tiga, kamu ada berapa?”jawabku “Remidiku banyak Ra’ ada lebih
dari lima, boleh nggak kamu ajarin aku?”, “bisa. Kami menyempatkan untuk
membenarkan gerakan maupun jurus yang salah, setelah kemudian aku bersama
peserta ujian yang perempuan pergi tempat wudhu untuk membersihkan badan
sebelum tidur, kami kembali ke ruangan dan tidur.
Jam 04:25 aku terbangun dari
tidurku, “semuanya masih tidur”kataku, aku membangunkan Ija yang ada
disampingku untuk menemaniku keluar mencuci muka. Tak lama kemudian suara
mesjid terdengar dan tak lama lagi sholat subuh, semuanya bangun bersiap-siap
melaksanakan sholat subuh, selepas sholat semua peserta ujianpun berkumpul di
lapangan kembali, kami pemanasan dan lari berkilo –kilo meter dan sampai di MTS
kembali, dalam perjalanan tadi banyak juga yang tak sanggup lagi. “Huhh.. lelah
juga barusan aku lari pagi sejauh ini” kata Ija “Aku juga sama” menjawab dengan
kelelahan, lanjut pelemasan. “Kalian diberi istirahat untuk makan, mandi dsb.
Gunakan waktu sebaik-baiknya, kalian harus berkumpul di lapangan lagi pukul
08:30. Siap!”kata seorang kader, “ Siap!” kami menjawab serentak. Gubar dari
barisan saatnya aku bersama Ija pergi membeli makanan di luar, “Ujian kedua
nanti kayak bagaimana yah Ija?” tanyaku, “katanya kak Inda, ujian nanti
berbentuk ujian fisik dan sebelum ujian dituntas kan dulu remidi kayak
gitu”jawabnya. “Ohh.. kayak gitu, eh makan dulu yuk tidak lama lagi kita
kumpul” ujarku. Kak Inda itu sudah tingkat 2 jadi dia sudah tahu. Selesai makan
aku dengan yang lain siap-siap mengganti baju dan berkumpul dilapangan.
Sebelum ujian, aku secepatnya
menuntaskan remidiku. “Akhirnya remidiku tuntas juga”ujarku menunggu yang lain
menuntaskan remidinya, aku mengajarkan Ija materi yang diremidikannya. Waktu
untuk remedial habis, saatnya ujian kedua dimulai. Nomor pesertaku dipanggil
seorang kader perempuan, aku tidak sendiri ada juga siswa dari cabang MTS,
“jadi push up, shit up, meninju dan tendangan menjulang semuanya kalian
gerakkan sampai 60×, mengerti?”ujarnya, kami menjawab “mengerti” aku mulai
bergerak, di tengah-tengah aku bergerak “kalau mau melebihi 60 bisa”kata kader.
Push up aku lebihi menjadi 80×, shit up ku lebihkan menjadi 100×, meninju juga
sama 100× dan tendangan menjulang ku lebihkan menjadi 90×. Aku melanjutkan
jalan bebek dengan jarak 2 kali lapangan yaitu basket dan volly dengan 3 kali
putar balik sama juga seperti lompat kodok, koprol, guling botol, merayap dan
angkat beban. “Wow.. huhh.. sangat-sangat melelahkan tapi seru juga dengan
candaan tawa dari kader-kader yang mengawasiku”ujarku. “Melelahkan banget Ra’,
liat juga nih baju kotor semua”kata Ija “Tidak apalah, bajuku juga
kotor”balasku. Selesai ujian fisik ini pukul 11:30, peserta ujianpun kembali
beristirahat. “Kak Inda, ujian berikutnya seperti apa?” tanyaku “ujian
berikutnya itu ujian tertulis, pelajari saja ayat syahadat, arti dari lambing
tapak suci dan sejarah tapak suci” jawabnya.”oke makasih kak”balasku. Menunggu
waktu ujian tulis, aku dan teman-teman yang lain sibuk belajar. Sudah ada
panggilan untuk ujian tulis, aku pergi ke ruangan ujian sambil
membaca buku “semoga ujian tulis nanti aku bisa menjawabnya dengan benar”ucapku
dalam hati. Masuk keruangan ujian siap untuk melaksanakan ujian tulis, banyak
kader yang mengawasi di bagian belakang tempat dudukku. Akhirnya ujain tulis
sudah berakhir dan aku menjawabnya dengan lancar dan jujur, “Semuanya kumpul di
lapangan”ujar seorang kader, “Untuk apa lagi yah?”tanya siswa MTS berbisik dengan temannya, aku turun saja
menuruti perintah kader. Para peserta ujian berbaris dan jalan “Kak kita mau
kemana” tanyaku ke Kak Mail “ikuti saja yang di depan nanti juga tahu”jawabnya,
aku hanya menurut saja dan ternyata ke lapangan. Kami disuruh duduk dan kepala
tidak boleh menoleh kesana kemari, aku penasaran banget ap yang dilakukan di
lapangan ini, sudah ada beberapa siswa yang ditunjuk tak lama kemudian aku ditunjuk,
aku mengikuti siswa sebelumku “Astaga! Aku harus turun got”ujarku dalam hati
“hey kamu jangan tinggal menghayal ayo sini”ujar kader yang di atas got. Oh
terpaksa aku turun, anak pencak silat tidak takut dengan beginian, aku
memberanikan diri, “Kamu pergi ke kader yang disana itu”katanya memberi
petunjuk. Aku lari ke tempat kader berikutnya, aku disuruh merayap sampai ke
tempat selanjutnya, di tempat selanjutnya muka ku diberi lumpur dan aku disuruh
ke tempat kader berikutnya aku lari sesampainya, aku disuruh berguling di
lumpur, lanjut aku ke kader berikutnya ternyata kak Mail, aku disuruh memecah
teka-tekinya dan aku bisa memecahnya, lanjut ada kader yang tiba-tiba datang
menyerang dengan toya senjata dari rotan ternyata aku disuruh untuk menghindari
serangan tersebut, setelah itu aku diguling dengan kak Diana kader yang
melatihku setiap hari minggu dan yang terkhir aku disuruh melawan kader
perempuan dengan kepala yang pusing, selesai semuanya peserta ujian kembali ke
MTS dengan baju, muka kotor berlumpur serta basah. Penutupan ujian berlangsung
disertai dengan pengumuman hasil ujian penaikan tingkat ini, “namaku mana? Lama banget
disebutnya”aku mencoba untuk tenang dan ternyata aku LULUS, senang banget hati
ini aku sudah menjadi siswa tingkatan 1 (satu). Keinginanku sudah berhasil, aku
bisa menjadi anggota tapak suci dan aku akan melanjutkan sampai seterusnya aku
bisa.
Karya: Radhiah Tulhidayah
Cerpen pertamaku
Cerpen pertamaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar